Saya mengambil satu
kasus yang ini adalah sangat sangat menjadi contoh tentang pembahasan
bertemakan penghargaan sebuah nyawa. Saya
pernah melihat suatu video pendek yang menceritakan sebuah cerita singkat akan
tetapi sangat memberi pelajaran dan sangat menyentuh. Diceritakan ada seorang
bapak yang bekerja sebagai penjaga jembatan. Jembatan yang di bangun untuk
menyeberangi sungai yang cukup besar. Jembatan tersebut yang dioperasikan dengan tuas dan jembatan tersebut adalah sekaligus jalur
rel kereta api. Jadi cara kerjanya adalah bila ada kereta api yang akan
melintas tuas harus di tarik agar jembatan menyatu, bagaimana bisa mengetahui
bahwa akan ada kereta yang melintas adalah adanya lampu yang sudah di atur
sedemikian rupa akan menyala dan mengeluarkan bunyi, tetapi waktu dalam
pemberitahuan itu adalah singkat dan secepat mungkin tuas harus segera di
tarik. Pada pangkal atau ujung-ujung jembatan
terdapat sebuah ruang kecil dimana ruang tersebut adalah ruang kecil yang di
gunakan untuk setiap kali pengecekan elemen-elemen jembatan yang mungkin rusak
akan di perbaiki di tempat itu.
Bapak ini mempunyai
seorang anak laki-laki kecil sekitar berumur 2 sampai 3 tahun. Bapak ini sangat
menyayangi anaknya. Selalu bercanda setiap saat, dan anak ini pun setia
menemani bapaknya saat bekerja. Diceritakan bapak dan anak ini selalu
menghabiskan waktu bersama. Setiap hari juga bapak ini bekerja dengan di temani
anaknya, memang tidak diceritakan di mana posisi ibu anak ini. Yang ada hanyalah bapak dan anak ini.
Suatu hari bapak
ini sedang membuat laporan pekerjaan nya di dalam ruangan tuas dan dia biarkan
anaknya bermain sendiri di sekitar jembatan. Karena mungkin terlalu fokus
terhadap pekerjaannya, sehingga bapak ini membiarkan juga anaknya bermain pada
pangkal jembatan. Anaknya yang bergelantungan terlihat sangat menyenangkan.
Tiba-tiba lampu pun menyala dan berbunyi, tanda akan ada kereta yang melintas,
bapak ini pun segera sigap segera akan menarik tuas, seketika itu juga
pandangan bapak ini tertuju pada anaknya karena terdengarnya suara tertawa
anaknya yang berasal dari pangkal jembatan.
Seketika itu juga
bapak ini sangatlah bingung. Bilamana dia harus segera mungkin menarik tuas
agar jambatan turun dan kereta melintas, tetapi bila tuas di tarik jembatan
turun akan mengakibatkan anaknya yang sedang bermain di pangkal jembatan
terjepin dan mungkin akan memotong tubuh kecil anaknya itu. Sangat sulit di
saat itu bapak ini memutuskan, ia harus menyelamatkan anaknya yang akan mati
terjepit dan membiarkan kereta jatuh dalam sungai dan akan banyak korban mati
atau tetap menarik tuas, menyelamatkan banyak nyawa tetapi kehilangan satu
nyawa anak yang sangat disayanginya. Di dalam video ini sangat di tunjukan
kebingungan yang sedang dirasakan bapak ini dengan visualisasi yang menampilkan
antara kereta, tuas, bapak dan anak dengan tempat berbeda, bergantian dan
sangat cepat. Selama kurang lebih kurang dari satu menit bapak ini memutuskan
bahwa ia tetap akan menarik tuas, dan merelakan anaknya. Setelah kereta
melintas, segera keluarlah bapak ini dalam ruangan tuas, berteriak histeris
menghampiri anaknya, dia sangat terpukul dengan teriakan teriakannya yang
sangat histeris dan menggambarkan kekecewaan kehilangan sesuatu apa yang sangat
dia sayang.
Dengan teriakan dan
tangisan, dibungkusnya tubuh kecil anaknya yang sudah terbelah menjadi 2
bagian, berlumuran darah dan sangat menyedihkan itu dengan baju yang bapak itu
kenakan. Dia bawa tubuh anaknya itu melewati stasiun dimana berhentinya kereta
yang melintas tadi. Dengan tangisan nya yang masih belum berhenti,
disaksikannya para penumpang kereta yang turun satu persatu dari gerbong kereta
banyak sekali anak-anak yang menjadi penumpang disana, keluarga, para remaja,
dan orang tua lansia yang turun dari sana. Tangisan kekecewaan yang dalam lama
kelamaan berubah menjadi tangisan haru yang sangat menjadi lambang bersyukur,
bapak ini mejadi sadar bahwa apa yang dia lakukan adalah sangat baik karena ia
rela mengorbankan nyawa anaknya demi banyak nyawa para penumpang kereta.
Di kasus yang saya
ambil ini, saya mengambil kesimpulan, penghargaan sebuah nyawa di
sini sangatlah nyata dan berarti. Seorang bapak yang rela
mengorbankan nyawa anaknya demi banyak nyawa penumpang kereta. Walaupun
sangatnya menyakitkan harus kehilangan nyawa seseorang yang disayanginya tetapi
dia mengambil keputusan yang sangat tepat sehingga dapat menyelamatkan lebih
banyak nyawa manusia.