Laman

Senin, 08 April 2013

Ratusan nyawa berbanding satu



Saya mengambil satu kasus yang ini adalah sangat sangat menjadi contoh tentang pembahasan bertemakan penghargaan sebuah nyawa. Saya pernah melihat suatu video pendek yang menceritakan sebuah cerita singkat akan tetapi sangat memberi pelajaran dan sangat menyentuh. Diceritakan ada seorang bapak yang bekerja sebagai penjaga jembatan. Jembatan yang di bangun untuk menyeberangi sungai yang cukup besar. Jembatan tersebut yang dioperasikan dengan tuas dan jembatan tersebut adalah sekaligus jalur rel kereta api. Jadi cara kerjanya adalah bila ada kereta api yang akan melintas tuas harus di tarik agar jembatan menyatu, bagaimana bisa mengetahui bahwa akan ada kereta yang melintas adalah adanya lampu yang sudah di atur sedemikian rupa akan menyala dan mengeluarkan bunyi, tetapi waktu dalam pemberitahuan itu adalah singkat dan secepat mungkin tuas harus segera di tarik. Pada pangkal atau ujung-ujung  jembatan terdapat sebuah ruang kecil dimana ruang tersebut adalah ruang kecil yang di gunakan untuk setiap kali pengecekan elemen-elemen jembatan yang mungkin rusak akan di perbaiki di tempat itu.
Bapak ini mempunyai seorang anak laki-laki kecil sekitar berumur 2 sampai 3 tahun. Bapak ini sangat menyayangi anaknya. Selalu bercanda setiap saat, dan anak ini pun setia menemani bapaknya saat bekerja. Diceritakan bapak dan anak ini selalu menghabiskan waktu bersama. Setiap hari juga bapak ini bekerja dengan di temani anaknya, memang tidak diceritakan di mana posisi ibu anak ini. Yang ada hanyalah bapak dan anak ini.
Suatu hari bapak ini sedang membuat laporan pekerjaan nya di dalam ruangan tuas dan dia biarkan anaknya bermain sendiri di sekitar jembatan. Karena mungkin terlalu fokus terhadap pekerjaannya, sehingga bapak ini membiarkan juga anaknya bermain pada pangkal jembatan. Anaknya yang bergelantungan terlihat sangat menyenangkan. Tiba-tiba lampu pun menyala dan berbunyi, tanda akan ada kereta yang melintas, bapak ini pun segera sigap segera akan menarik tuas, seketika itu juga pandangan bapak ini tertuju pada anaknya karena terdengarnya suara tertawa anaknya yang berasal dari pangkal jembatan.
Seketika itu juga bapak ini sangatlah bingung. Bilamana dia harus segera mungkin menarik tuas agar jambatan turun dan kereta melintas, tetapi bila tuas di tarik jembatan turun akan mengakibatkan anaknya yang sedang bermain di pangkal jembatan terjepin dan mungkin akan memotong tubuh kecil anaknya itu. Sangat sulit di saat itu bapak ini memutuskan, ia harus menyelamatkan anaknya yang akan mati terjepit dan membiarkan kereta jatuh dalam sungai dan akan banyak korban mati atau tetap menarik tuas, menyelamatkan banyak nyawa tetapi kehilangan satu nyawa anak yang sangat disayanginya. Di dalam video ini sangat di tunjukan kebingungan yang sedang dirasakan bapak ini dengan visualisasi yang menampilkan antara kereta, tuas, bapak dan anak dengan tempat berbeda, bergantian dan sangat cepat. Selama kurang lebih kurang dari satu menit bapak ini memutuskan bahwa ia tetap akan menarik tuas, dan merelakan anaknya. Setelah kereta melintas, segera keluarlah bapak ini dalam ruangan tuas, berteriak histeris menghampiri anaknya, dia sangat terpukul dengan teriakan teriakannya yang sangat histeris dan menggambarkan kekecewaan kehilangan sesuatu apa yang sangat dia sayang.
Dengan teriakan dan tangisan, dibungkusnya tubuh kecil anaknya yang sudah terbelah menjadi 2 bagian, berlumuran darah dan sangat menyedihkan itu dengan baju yang bapak itu kenakan. Dia bawa tubuh anaknya itu melewati stasiun dimana berhentinya kereta yang melintas tadi. Dengan tangisan nya yang masih belum berhenti, disaksikannya para penumpang kereta yang turun satu persatu dari gerbong kereta banyak sekali anak-anak yang menjadi penumpang disana, keluarga, para remaja, dan orang tua lansia yang turun dari sana. Tangisan kekecewaan yang dalam lama kelamaan berubah menjadi tangisan haru yang sangat menjadi lambang bersyukur, bapak ini mejadi sadar bahwa apa yang dia lakukan adalah sangat baik karena ia rela mengorbankan nyawa anaknya demi banyak nyawa para penumpang kereta.
Di kasus yang saya ambil ini, saya mengambil kesimpulan, penghargaan sebuah nyawa di sini sangatlah nyata dan berarti. Seorang bapak yang rela mengorbankan nyawa anaknya demi banyak nyawa penumpang kereta. Walaupun sangatnya menyakitkan harus kehilangan nyawa seseorang yang disayanginya tetapi dia mengambil keputusan yang sangat tepat sehingga dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa manusia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar